Dirgahayu Indonesiaku
64 tahun sudah Indonesia merdeka. Untuk ukuran manusia, sudah memasuki pengendapan. Menjauhkan diri dari hasrat dan gejolak dunia, mencari jalan terang menghadap sang pencipta. Namun untuk sebuah bangsa, boleh dikata Indonesia masih muda. Ini kalau dibandingkan dengan Amerika atau bangsa yang pernah menjajah kita Belanda.
Amerika sudah ratusan tahun. Waktu Indonesia sebagai sebuah negara belum ada, mereka sudah punya pemerintahan, UU, dan teknologi maju. Jadi boleh dibilang sebagai bangsa kita masih belajar, mencari bentuk yang tepat untuk bangunan negara ini. Dengan experimen dan mencoba. Jadi menjadi hal yang wajar kalau masih terjadi kesalahan di sana-sini. Jadi tugas kita adalah belajar dan berjuang mengejar ketertinggalan.
Nasionalisme. Getaran itu terasa sudah lemah. Dihadapkan pada rutinitas sehari-hari, yang sering memaksa untuk bertindak realistis (maksudnya pragmatis), lama tak tersentuh kegiatan seperti upacara bendera, membuat getaran itu sering sayup saja terdengar.
Dulu, menjelang 17 Agustus adalah saat yang menggembirakan. Waktu SD, ini adalah saat melihat upacara di kecamatan, yang diikuti oleh kakak-kakak dari SMP, dengan tata cara dan kualitas yang berbeda dari upacara bendera di sekolah. Dari ukuran bendera yang lebih besar, pembawa acara yang lantang, paduan suara, pembawa bendera yang tegap, semua berbeda. Kami kagum dengan kempuan kakak-kakak SMP dulu.
Tak hanya itu, 17 agustus juga penuh dengan lomba-lomba. Ada panjat pinang, makan kerupuk, baap karung. Tarik tambang dll. Juga sering digelar pentas kesenian tradisional dari banyak desa. Pagar-pagar di cat, jalan-jalan dibersihkan, di pasang bendera Merah Putih, Pokoknya meriah.
SMA dan SMA apalagi. Sekolah yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan dan keramaian. Ada karnaval dari banyak sekolah dan pameran pembangunan. Ikut upacara dengan anak-anak sekolah lain di alun-alun Kutoarjo.
Sekarang setelah lama, sering hati bertanya, masih adakah nasionalisme ini? Mengapa tak semenyala dulu? Mungkin usia, pemikiran, yang memang seperti ini, berbeda dalam menyikapi.
Mungkin belum terlalu jauh teracuni. Yang sering masih mengelus dada melihat kelakuan pemegang mandat negeri menyalahgunakan jabatan untuk meperkaya diri. Sambil merenung, apakah rasa nasionalisme ini akan cukup kuat kalau saya pada posisi terhormat tersebut.
Tapi getaran itu masih ada. Mendengar Indonesia raya dinyanyikan, melihat Sang Merah Putih dikibarkan, hati ini terghetar. Aku anak Indonesia.
Aku bangga sebagai Islam.
Aku bangga sebagai Jawa.
Aku bangga menjadi Indonesia.
Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda-beda kita tetap satu: INDONESIA
DIRGAHAYU INDONESIAKU
SELAMAT HUT KEMERDEKAAN RI KE 64.
ditulis: 17 agustus 2009 22.00
diposkan: 18 agustus 2009 14.26
posted on:8/18/2009 3:28:40 AM | by: meds | under: diary |
( 3 ) Komentar

