Selamat Bermuktamar untuk NU
Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, mengggelar Muktamar ke-32 di Makassar, Sulsel 23-28 Maret 2010. Besar maka banyak yang berkepentingan dengannya. Apalagi dalam muktamar untuk memilih ketua umum baru, pasti terjadi ajang banyak pihak untuk ikut menentukan siapa ketua terpilih.
Yang pertama jelas pemerintah SBY. SBY dalam pidato pada Muktamar ke-32 NU di Makassar sudah mengingatkan, NU jangan berpolitik. NU harus berpegang teguh terhadap khittah 1926, dengan cara demikian NU bisa ikut andil membangun bangsa. Pernyataan SBY ini bisa dianggap sebagai intervensi dan tekanan lembut terhadap NU.
Hal ini menimbulkan wacana mirip jaman Orba, ketua umum yang direstui pemerintah dan tidak. Lalu ada versi ketua umum yang direstui kyai sepuh.
Kemudian partai-partai, apalagi yang kadernya tokoh NU. Berusaha merebut pengaruh di NU, kalau bisa kadernya bisa duduk sebagai ketua umum. Di PPP ada Suryadharma Ali lalu di Golkar ada Slamet Effendy Yusuf.
Kader-kader NU memang sudah menyebar. Karena mungkin besar, satu partai politik tak cukup, walupun partai tersebut yang melahirkan PBNU: PKB. Kader-kader NU hampir ada yang di semua partai: PPP, Golkar, PDIP, Demokrat, Gerindra, Hanura, dan PKB.
NU memang besar, cair, internal NU sendiri tidak satu kata soal partai yang layak mewakili suara NU.Sejarah panjang NU sebagai kekuatan yang "tersingkir" menjadikan kadernya berpencar kemana-mana. Tentu mereka sudah membuat basis di masing-masing partai yang tak semudah membalik tangan untuk menggiring ke satu partai.
NU yang besar juga menyebabkan banyak perbedaan pemikiran. Ada yang konservatif, ada yang moderat, ada yang liberal. Pemikiran-pemikiran seperti ini banyak bersinggungan di NU. Makanya, NU suatu ketika mengeluarkan fatwa haram tentang sesuatu, sementara ada kader NU yang lain berpikiran sebaliknya: liberal.
Jadi perlukah NU berpolitik? Saya kira perlu. Orang-orang NU sering mengeluh hanya diperlakukan sebagai ban serep. Di pakai kalau ada ban lain yang bocor. Fungsinya lebih banyak digantung. Atau sebagai tukang dorong mobil yang macet, setelah mobil berjalan, NU di tinggalkan. Setiap pemilu pasti NU dilirik. Tapi setelah itu jadi penonton.
Perlukah partai yang khusus NU? Saya kira juga perlu. Ikhtiar dengan mendirikan PKB merupakan upaya agar NU mempunyai wadah yang khas NU. Tapi kita semua tahu, justru perpecahan demi perpecahan semakin membuat partai ini semakin kecil yang sekarang posisinya kurang diperhitungkan di parlemen. Langkah lain, ada yang mendirikan PKNU juga bahkan tak lolos ET.
Tapi tidak punya partai juga akan akan menyebabkan suara NU tidak terjamin tersalurkan. Partai-partai cenderung membawa suara besar partainya. Dalam posisi ini, fungsi NU bisa benar hanya sebagai tukang dorong mobil, atau supporter. Hanya dibutuhkan saat pemilu, sedangkan pada setiap pengambilan keputusan penting, NU dikesampingkan.
Orang NU banyak bermukim di pedesaan, dengan tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang masih rendah, akses terhadap informasi rendah. Yang sering lebih membahas hal-hal kecil seperti jumlah rakaat tarawih, tahlilan atau tidak, qunut atau tidak. Masalah politik, itu urusan Jakarta.
Ini merupakan tugas para pemimpin NU. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan wong NU yang merupakan wong cilik dan membawa NU sebagai kekuatan yang menentukan dan diperhitungkan. Jangan sampai justru diambil misalnya PDIP yang punya jargon membela wong cilik. Atau yang sudah terjadi, oleh Demokrat di Jawa Timur.
Semoga para kandidat yang memperebutkan kursi ketua umum NU mempunyai visi untuk membawa NU kedepan lebih baik dan lebih besar. Bukan menjual NU demi posisi dan kekuasaan.
Selamat dan sukses atas digelarnya Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama.
posted on:3/24/2010 2:27:27 AM | by: meds | under: opini |
( 7 ) Komentar

