Jangan lupakan kasus Century
Negeri infotainment. Mungkin seperti itulah kondisi Indonesia tercinta. Hampir setiap hari kita disuguhi berbagai tayangan menggoda. Satu belum selesai ada tayangan baru lagi. Yang lagi hot jadi pembicaraan hangat, yang lama dilupakan.
Dulu sayup-sayup ada kasus Century. Bank Century oleh pemerintah dinilai harus diselamatkan agar tidak berdampak sistemik pada bank-bank kecil lain. Tindakan pemerintah adalah menggelontorkan dana 6.7 T untuk mem-bailout Century. Dan sekarang dana itu tidak jelas dimana dan untuk apa.
Kasus ini begitu menyedot perhatian banyak masyarakat. Para pengamat berdebat. Ada yang pro bailout ada yang kontra. Fraksi DPR juga terbelah, yang akhirnya memutuskan memilih 2 opsi yang isinya kurang lebih: bailout melanggar dan bailout tidak melangar. Paripurna DPR RI akhirnya memutuskan baliout Cebtury melanggar hukum.
Lalu ada kasus Bibit-Chandra "melawan" Polri yang lebih dikenal dengan kasus Cicak vs Buaya. Kasus ini menyedot jutaan penggemar. Seperti kontes idol, dukung-mendukung terhadap cicak atau buaya masuk ke situs jejaring sosial Facebook sewaktu Bibit-Chandra ditahan. Dukungan ini terbilang fantastis, jutaan member FB mendukung Bibit-Chandra. Waktu itu begitu banyak yang bersimpati pada Bibit Chandra dan membenci Kabareskrim Komjen Pol Susno Duaji. Posisinya, Bibit-handra sebagai ihak yang di dzalimi, mabes Polri sebagai yang dzalim.
Buntut dari Cicak buaya membawa korban, Kabareskrim Komjen Pol Susno Duaji diberhentikan dari Kabareskrim dan menjadi perwira tinggi Mabes Polri.
Lalu Susno Duaji sepertinya melawan institusinya sendiri. Kondisinya pun berbalik. Susno yang dulu dibenci tiba-tiba jadi pahlawan. Susno mengungkap penyelewengan yang dilakukan oleh beberapa petinggi Mabes Polri dalam kasus Gayus Tambunan. Hasilnya Kasus Gayus Tambunan "hampir" terungkap dan disinyalir melibatkan oknum Dirjen Pajak, Kejaksaan, dan Kepolisian.
Kasus Gayus menjadi berita hangat, seorang pegawai Dirjen Pajak awalnya memiliki dana 27 M. Bahkan, belakangan "katanya" ditemukan safe deposit box atas nama isteri Gayus berisi uang fantastis berpuluh 74M.
Uang ini berasal dari 9 Safe deposit Box milik Gayus. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Edward Aritonang, Kamis (17/6/2010), menjelaskan, penemuan sembilan safety box itu merupakan hasil penelusuran rekening dan deposito milik Gayus.
Di bank pertama, Gayus membuka enam safety box. Empat safety box telah ditutup sebelum diblokir penyidik. "Dua lagi kita buka sudah kosong, tapi belum ditutup (safety box masih milik Gayus)," ungkapnya.
Pada bank kedua, ungkap Edward, Gayus membuka dua safety box dan masih aktif. Satu safety box sudah kosong. Sementara itu, di dalam satu safety box lain ditemukan 31 batang emas dan uang tunai dalam mata uang dollar AS dan dollar Singapura. Total harta senilai Rp 74 miliar. "Di bank ketiga, satu safety box ditemukan kosong," papar dia.
link: http://nasional.kompas.com/read/2010/06/17/18442584/Safety.Box.Gayus.Ternyata.Sembilan
Gayus lumayan lama menjadi topik berita. Menyoroti kinerja dirjen pajak, pengadilan pajak, kejaksaan, dan kepolisian. Gayus sempat kabur ke Singapura tapi katanya bisa diambil lagi oleh Tim dari Mabes Polri dan Tim anti Mafia Hukum.
Lalu ada rencana alokasi dana aspirasi sebesar Rp. 15 M setiap anggota DPR per tahun. Usulan ini dilakukan Fraksi Partai Golkar yang Ketua Umumnya, Aburizal Bakrie menjabat Ketua Setgab Koalisi Pemrintahan SBY - Boediono. Kontan saja usulan ini menghasilkan pro - kontra. Perdebatan terjadi di TV, koran, dan ulasan di majalah. Masyarakat bawah pun berteriak, para pengamat berteriak. Namun, usulan yang semula ditolak mayoritas fraksi akhirnya bisa masuk ke paripurna walaupun hanya menjadi catatan. Dan Sepi.
Dan, yang masih hangat: Vi**o p*nas L*na dan Ar*el. Orang pun berganti tema. Semua mebicarakan. TV, koran, semua membahasnya. Dari obrolan di warung kopi, DPR, sampai Presiden berkomentar. Membahas dari perspektif hak pribadi, pelanggaran terhadap UU pornografi, dll. Kepopuleran kasus ini kabarnya sampai ke AS. Jadilah Kasus ini menjadi the news maker. Apalagi ada isu masih ada 32 video yang belum diedarkan.
Dan, kasus Century kok hilang. Mana dulu rekomendasi hasil paripurna DPR RI yang antara lain berisi perintah untuk memeriksa pejabat-pejabat terkait. Mana dulu suara nyaring para pengusung Pansus Century.
Ya, media masa, TV yang dulu gencar memberitakan perjalanan pansus Century sekarang tidak lagi. Mungkin TV kan media komersial, mereka juga harus tunduk pada hukuim pasar, yang banyak diminati ya itu yang ditampilkan.
Masyarakat jadi pasar isu diombang-ambingkan pemberitaan media yang lompat-lomnpat. Media untung dapat banyak iklan, rakyat jadi bingung.
Sepertinya peringatan yang pernah disampaikan Pak Harto: Ojo Gumunan, Ojo Kagetan. Ojo gumunan, jangan cepat kagum, ojo kagetan, jangan mudah kaget: shock. Ada HP baru: kagum, kaget, dan beli. Ada diskon sandal murah (padahal mahal untuk ukuran orang tak punya), Gumun, kaget dan beli. Ada video baru, kagum, cari dan download. Akhirnya ada berita baru juga kaget.
Apakah memang masyarakat kita mudah diombang-ambingkan. Kagetan, gumunan. Apakah masyarakat kita mudah lupa, mudah memaafkan. Atau bahkan acuh tak acuh - EGP (emang gue pikirin). Semoga tidak.
Semoga saja banyaknya kasus yang ada bukanlah sesuatu yang by design untuk melenyapkan kasus Century dari peredaran. Menjadi tugas warga negara yang punya ingatan lama untuk mengingatkan pemerintah. Semoga rakyat Indonesia tidak lupa, dan tidak mudah "dibuat lupa".
Wahai Jaksa - Polri - KPK: BERANTAS KORUPSI, Jangan lupakan KASUS CENTURY.
posted on:6/30/2010 1:36:25 PM | by: meds | under: opini |
( 100 ) Komentar

