Ojo Gumunan, Ojo kagetan
Ojo Gumunan: jangan mudah kagum, ojo kagetan: jangan mudah kaget. Peringatan ini rasanya pas untuk mengingatkan saudara-saudara kita sesama rakyat Indonesia yang sebagian besar masih gumunan dan kagetan.
Gumunan, berasal dari kata gumun yang artinya heran, takjub. Ojo gumunan, hendaklah kita tidak mudah kagum atau heran dengan perkembangan keadaan dan peristiwa atau benda yang terutama bersifat materi dan keduniawian. Gumunan biasanya didasari karena takjub terhadap suatu kelebihan. Gumunan lebih biasanya melihat bentuk fisik lahiriah atau pandangan sekilas kesan pertama daripada apa isi sebenarnya. Ini bisa dimengerti, gumunan biasanya melanda mereka yang kurang pengetahuan terhadap sesuatu yang dikagumi.
Bukannya ingin merendahkan, sekedar contoh. Orang kampung, seperti saya, kalau dari kecil tidak pernah melihat kota besar seperti Jakarta tentu akan terkagum-kagum melihat kemegahan dan gemerlapnya. Biasanya melihat bangunan biasa, sederhana, kemudian melihat bangunan bertingkat yang gemerlap. Biasanya melihat mobil pick up butut kemudian melihat mobil mewah yang built up import. Wajar kalau gumun.
Saat ini fenomena gumunan sudah melanda sebagian besar dari generasi bangsa ini. Ingatlah peristiwa-peristiwa besar di negeri ini: skandal bank century, Cicak buaya, Susno vs Polri, kongres PSSI, kasus nazarudin, rencana pembangunan gedung DPR, sel mewah, banggar DPR, memancing reaksi dari bermacam kalangan. Dari anggoa DPR, pengamat politik, mahasiswa, hingga yang menarik: aktivis web media sosial Fesbuk dan Twi*ter. Ya jumlah pengguna Fesbuk di Indonesia nomor 2 di dunia setelah AS.
Sudah menjadi trend, kalau ada peristiwa besar, pasti langsung bergaung di dua web jejaring sosial ini. Dan tangggapan yang paling hot: menghujat, mengutuk, menyalahkan, sampai menganggap tolol para pemegang pemerintahan atau mereka yang terlibat. Mungkin benar, mereka yang memegang amanat pemerintahan sekarang tidak lagi amanah, korup, atau memang bodoh. Tapi apa sih pengaruhnya kalau hanya berkoar-koar melalui web media sosial yang mungkin sambil menikmati suasana nyaman disebuah kafe elit, atau sambil tiduran di kursi malas, atau bahkan sambil tertawa karena berhasil membuat postingan yang "lucu".
Kasus dukungan tehadap Bibit-Chandra melawan Polri dalam kasus Cicak-Buaya adalah salah satu yang fenomenal. Dukungan sejuta Faceb*oker (istilah untuk aktivis fesbuk) benar-benar mencapai lebih dari sejuta. Demikian juga waktu pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari melawan RS Mitra, dukungan bahkan dalam bentu koin mencapai milyaran.
Sepintas, melihat begitu dahsyatnya dukungan di media sosial kita pantas bangga, kepedulian sebagian besar masyarakat kita masih tinggi terhadap kondisi bangsa dan ketidakadilan yang terjadi. Namun kalau diamati mendalam, belumlah menggembirakan. Saya masih menganggap hal itu bagian dari fenomena gumunan. Dukungan di web sosial media yang begitu dhsyat ternyata hanya sesaat, jarang direalisasikan dalam aksi nyata, dan jangan-jangan hanya karena trend. Setelah muncul kasus baru, orang berpindah topik, topik lama berganti, topik baru menjadi trend. Ini seperti tangga lagu saja. Jadilah, kasus lama yang dulu ramai berakhir dengan diam-diam tanpa banyak yang mempertanyakan. Orang sudah sibuk dengan "mainan" isu baru. Ini karena masyarakat gumunan mudah diombang-ambingkan.
Fenomena gumunan juga melanda dalam cara orang beragama. Ustad-ustad muda dan gaul yang sering muncul di TV laris manis dan jadi idola. Orang takjub pada para pemuka agama yang banyak jamaahnya. Pengajian yang diminati adalah majelis taklim yang dihadiri ribuan orang daripada kajian kitab di mushola kecil yang diasuh ustad kampung. Memang meriah, berdatangan rombongan dengan motor dan mobil dengan atribut dan bendera yang sering memacetkan jalan, demikian juga pulang. Ini berbeda dengan kajian kitab di mushola yang diikuti sekitar hanya 10 orang.
Dalam berpakaian juga. Jilbab pada mulanya sangat sederhana, hanya kain persegi empat, kalau memasang harus memakai jarum supaya tidak lepas. Jilbab adalah pakaian pelindung wanita untuk menutup aurat dan menyamarkan lekuk tubuh bagian atas. Tapi lihatlah sekarang, ada jilbab gaul, jilbab ketat, jilbab dengan nama artis ini-itu, dan jilbab fashion. Kebutuhan pokok menutup aurat menjadi terlupakan dengan tujuan mengejar kemewahan dan kecantikan penampilan. Maka, munculah banyak butik-butik muslimah yang menjual aneka macam bentuk jilbab yang harganya sampai jutaan rupiah.
Kemunculan sinetron atau pembawa acara dengan jilbab fashion menjadi pemasaran yang jitu. Masyarakat tak mau tahu apakah dalam keseharian si model pemakai jilbab tersebut rajin beribadah atau tidak, yang penting jilbabnya bagus. Maka larislah jilbab gaya artis A, jilbab gaya artis B, dll. Uang yang menang.
Kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih gumunan dimanfaatkan betul oleh ahli pemasaran dunia. Blekberi hp keluaran RIM (Research In Motion) Kanada dengan layanan andalannya BBM (bb mesenger) sukses menjual produknya di Indonesia. Sayangnya, gadget pintar ini banyak hanya digunakan untuk bbm dan fesbukan. Atau buat gaya-gayaan saja.
Pengguna gadget ini juga tak peduli, ketika blekberi menyertakan iklan gratis dengan icon blekberi atau tulisan "posted via blekberi" ketika membuat status di fesbuk. Dan sepertinya pengguna enjoy saja dengan iklan tersebut, mungkin malah bangga karena "saya punya blekberi lho".
Tidak percaya larisnya blekberi di Indonesia karena sebagian masyarakat kita masih gumunan? Beberapa waktu lalu terjadi penjualan blekberi salah satu type hp Blekberi yang di-dskon 50% untuk 1000 pembeli pertama. Apa yang terjadi? Pembeli mengantri seperti mengantri sembako. Mungkin harga yang dibandrol sekitar 2.5 juta dianggap sangat murah sehingga orang rela berdesak-desakan untuk mendapatkannya.
Mungkin orang gumun, kok bisa murah ya? Atau akhirnya, mimpi untuk punya blekberi kesampaian juga.
Mengapa gumunan? Orang yang gumunan biasanya yang kurang pengetahuan dan inferior/ kurang percaya pada kemampuan sendiri. Untuk konteks Indonesia, kurang percaya diri bisa disebabkan karena kurangnya kebanggaan terhadap identitas nasional atau identitas lokal dan kemampuan diri. Kurangnya identitas membuat orang membutuhkan sesuatu untuk penanda bahwa dirinya eksis. Caranya bisa macam-macam: membeli pakaian mewah, gadget canggih, mobil mahal.
Ini mirip dengan fenomena ABG yang krisis identitas, mengisi waktu dengan tawuran, corat-coret tembok dengan nama geng, atau bolos sekolah. Hal yang negatif menjadi kebanggan, mereka ingin di lihat, diakui.
Sementara kagetan, bisa karena tidak siap, atau efek lanjutan dari gumunan. Ada produk baru, takjub, masih terkagum-kagum ada produk lagi, kaget. Begitu seterusnya. Atau ada berita heboh, kaget, lalu serius memperdebatkannya, ada berita baru yang lebih heboh, kaget lagi. Lupa dengan berita lama.
Menjadi tugas pemerintah meningkatkan kebanggaan nasional atau identitas lokal. Dengan identitas yang kuat, orang tidak begitu terpengaruh oleh sesuatu dari luar, karena orang bangga akan apa yang dimiliki. Kurangnya kemampuan membuat orang ingin cara pintas dan cepat, juga mudah menjadi konsumen suatu produk. Menjadi tugas pemerintah, meningkatkan SDM dengan menaikkan anggaran pendidikan yang tepat sasaran, sehingga bangsa ini bukan sekedar pemakai produk tapi pembuat. Dari gumunan dan kagetan menjadi tidak gumunan, "saya juga punya atau saya juga bisa", tidak kagetan, "ah biasa saja".
Kalibata, 150212,4:13
posted on:2/14/2012 3:43:08 PM | by: meds | under: opini |
( 0 ) Komentar

