Hari Bebas Tembakau, Maksudnya Bebas (untuk) Merokok
Tangal 31 Mei diperingati sebagai hari bebas tembakau sedunia. Maksud dari peringatan ini tentulah mengingatkan kepada para pemakai tembakau, perokok, tentang bahaya merokok, tenang faedahnya kalau tidak merokok. Harapannya, dengan peringatan tersebut akan semakin banyak orang yang tidak merokok.
Di Indonesia peringatan hari bebas tembakau tak ada gaungnya. Di berita hanya ada dua laopran, yang dilakukan oleh Jurusan Kimia Unupad Bandung dan dari kelompok remaja di bunderan HI. Acara ini seperti demo yang ain, membawa spanduk berisi himbauan untuk tidak merokok, peringatan tentang bahaya merokok, dan manfaat kalau tidak merokok. Hasilnya? Tidak berpengaruh. Silakan disurvey pada tanggal 31 Mei, berapa persen perokok yang menghentikan kegiatannya sehari saja?
Memang ini bukan kewajiban, ini hanya himbauan. Tapi mungkin juga karena bangsa kita sulit untuk menghargai orang lain. Jakarta adalah kota yang mempunyai perda tentang pelarangan merokok di tempat-tempat umum, tapi tidak efektif. Lihatlah di bus kota, kereta api, banyak perokok yang dengan santainya merokok, padahal banyak yang terganggu dengan kegiatannya. Mungkin dengan merokok syaraf perasanya menjadi tumpul sehingga kurang peka terhadap lingkungan.
Tapi, inilah Indonesia. Banyak PR yang masih harus diselesaikan. Dari yang besar-besar seperti BLBI, korupsi, sampai yang kecil-kecil atau yang diangap kecil: mental, sikap moral, sikap etis. Seharusnya, menurut saya, bolehlah orang berlaku sesuka hati, semaunya, asal dalam koridor tidak mengusik, menganggu, atau merugikan orang lain. Sikap etis perlu untuk menyadarkan diri sendiri kalau melakukan hal yang sekiranya mengganggu orang lain.
Saya pernah mendengar teman berseloroh: mengharapkan perokok peduli pada orang lain? Jangankan pada orang lain, pada diri sendiri saja mereka tidak peduli. Benarkah?
posted on:5/31/2008 1:54:46 PM | by: meds | under: opini |
( 7 ) Komentar

