Wayang, Wahyu Mustiko Aji
Tadi malam (3/11) dinihari nonton wayang kulit di Indosiar, lakonnya Wahyu Mustiko Aji. Tapi dalangnya lupa, sudah setengah jalan. Ceritanya, lembur hingga jam dua, ada siaran wayang kulit, langsung nonton sampai pagi.
Sudah lama sekali tidak nonton wayang, padahal dulu kalau ada tanggapan bisa dari sore sampai pagi, bahkan ketika masih radio. Rasanya kalau belum selesai belum puas. Berbagai lakon hampir hapal ceritanya: dari Babad Alas Mertani, Wahyu Purbogayun, Kresno Duto, Lakon Werkudori mencari Banyu Suci Perwitasari, Kumbokarno Gugur, Bagawan Ciptaning, sampai lakon carangan Petruk Dadi Ratu, Bagong dadi Ratu, dll. Tapi sekarang sudah pada lupa.
Sudah lama tidak mendengarkan, di Jakarta acara televisi semua budaya pop, radio memang tidak punya, jadi jarang mendengarkan. Mendengararkan suara gamelan seperti mengantarkan kembali ke masa lalu, masa kecil. Mendengarkan lelucon ki dalang yang menyindir penguasa, birokrat, dan abdi negara yang belum menjalankan amanat tugas, sindiran ki dalang terhadap kelakuan para wiyogo, juga banyak pititur luhur yang begitu membekas.
Saya memang lebih tergetar mendengar wejangan ki dalang yang di sampaikan lewat tokoh wayang, ajaran budi pekerti, kebijaksanaan, atau laku agama, daripada wejangan ustad yang banyak di televisi. Mungkin kepandaian ki dalang dalam nelakonkan wayangnya, sehingga seperti hidup.
Wahyu Mustiko Aji, wahyu untuk penguasa, ratu, sehingga yang memegang wahyu ini akan bisa memerintah dengan bijaksana, untuk kemakmuran rakyatnya. Saya kira ini pas dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang, masih banyak rakyat yang sengsara, hidup di bawah garis kemiskinan, sementara para penguasa hidup mewah melimpah. Seperti slogannya iklan Jenderal Sudirman Center, yang isinya kira-kira: biarlah para pemimpin yang menderita, asal rakyat sejahtera.
Menurut para dewa, wahyu ini akan diturunkan kepada raja Amarta, sulung Pandawa: Prabu Puntadewa. Raja yang dikenal suka damai, mungkin sesuai dengan prinsip ahimsa, anti kekerasan. Raja yang jujur. yang tidak pernah berbohong, bahkan untuk membela negaranya pun, mengindari berbohong.
Saya ingat waktu cerita Aswatama mati, lakon baratayuda. Aswatama itu anaknya pandito Durna, tokoh yang sering diidentikan dengan tipu muslihat dan kelicikan. Sebenarnya belum jelas apakah Aswatama mati atau belum, namun waktu naik Gajah, gajah itu dipukul dengan gada milik Werkudoro, sehingga gajah hancur. Durno mencari anaknya, oleh kubu Amarta disiarkan kabar bahwa Aswatama mati. Padahal yang jelas mati adalah estitomo, gajah ya(?).
Durno yang putus asa mencari keterangan kesana kemari, tak puas, akhirnya menemui Prabu Puntadewa, yang dia kenal tak pernah berbohong. Oleh Kresno, Prabu untodewo disuruh berbohong, kan kepada musuhnya, jadi tidak apa-apa. Tapi Prabu Puntodewa bergeming, tidak mau. Akhirnya, Kresno menyuruh Prabu Puntodewo tak berbohong namun waktu mengucapkan Esti pelan saja dan waktu mengucapkan Tomo yang agak keras. Jadilah ucapan Estitomo yang mati, pendito Durno mendengarnya Aswatomo,
Akhirnya pandito Durno setelah tahu Aswatama mati merasa tidak punya harapan lagi, turun kesaktiannya, dan bisa dibunuh oleh amarta. .................
Kembali ke laptop, Puntadewo kemudian melakukan tapa brata, dijaga oleh saudara-saudaranya dan anak-anak pendawa. Gangguan datang dari para kurawa yang juga ingn mendapatkan wahyu tersebut.
Diceritakan, anaknya Prabu Kresno, Boma Narakasuro menginginkan wahyu tersebut. Datanglah Narakasura dengan ibunya Dewi pertiwi menghadap Kresno, minta diusahakan wahyu Mustiko Aji.
Oleh Kresno, diberi nasehat. Wahyumustiko aji bisa menjadi milik Boma, kalau dia bisa memenuhi 4 prssyarat:
1. Tidak bertindak maksiat (tidak melakukan 5 ma: main, madon, madat, maling, satu lagi apa ya? ). 2. Tidak dzalim. 3. Nrimo ing pandum rejekining gusti. Sepiro-sepiro sing wis dipun paringi Gusti Allah, disyukuri dan ditompo kanti bungah. Tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk mengejar kekayaan. 4.Ndonga, berdoa. Nyuwun pangarsanipun Gusti, mrigi kaleksanan ingkang dadi pengarep. Ndonga inggih nyawiji lahir lan batos kaliyan Gusti. Ngibadah kedah lahir tumusing batin..
Boma tidak mau tahu, pokoknya minta wahyu untuk dirinya. Dengan rengekan sang anak dan rayuan isteri Kresno akhirnya mengupayakan, maka dipangggilah Hanoman, kera putih yang menjadi pandito. Ditanya kesetiaan pada kresno, hidup dan mati untuk kresno. kesetiaan yang aneh. Maka diperintahkan membunuh Puntadewa. Karena sudah mengucapkan janji apapun yang diperintahkan akan dilaksanakan, maka dengan berat hati Hanoma berangkat ke Pandawa.
Sampailah di hadapan Puntadewa yang sudah mendapatkan wahyu tersebut. Bilang apa adanya bahwa disuruh prabu Kreso untuk membawa Puntodewa untuk dibunuh. Puntodewa menyerahkan jiwa raganya untuk di bawa oleh Hanoman. Maka dibawalah didalam kandogo (wadah). Dibawa terbang. Kertahuan oleh para putera Pendawa, maka terjadi peperangan antara Hanoman dengan para putera Pandawa. dengan kecerdikan Wisanggeni, anaknya Arjuno dengan bidadari, cucunya Dewa Brahma, maka Puntadewa bisa direbut kembali.
......
Intinya wahyu, takdir, rejeki, bisa sudah diatur oleh yang kuasa. Untuk mendapatkan harus dengan tapa brata, usaha. Jangan mengambil yang bukan hak kita. Sekuat apapun kita berusaha, kalau belum "jatahnya" , tidak akan terpegang. Kalau saya setuju dengan prinsip "Nrimo ing pandum". Tidak ngege mongso, syukuri apa yang didapat hari ini, berupaya untuk mendapat yang lebih baik di masa depan. Hasilnya: terimalah dengan syukur.
Memang hanya wayang, cerita, namun terkandung banyak piturur luhur. Bagi yang mendengarkannya.
posted on:11/3/2008 9:49:14 AM | by: meds | under: diary |
( 7 ) Komentar

