Teori Jendela Pecah untuk Jakarta
Jakarta sebagai kota metropolitan memang menyimpan daya tarik luar biasa, hiburan, pekerjaan, jasa, informasi, hasilnya: uang. Uang ini yang diperebutkan banyak orang. Ada peluang, orang datang. Yang lain ingin ikut menikmati, kebutuhan meningkat, barang meningkat, uang meningkat. Ini mengundag orang lain lain untuk datang. Begitulah, seperti lingakarn setan yang tak tahu harus diputus dimana.
Karena uang inilah yang mengundang banyak kepentingan, akhirnya banyak masalah, juga kejahatan. Semua kejahatan diawali dengan pelanggaran. Pelanggaran Karena orang tidak mau mematuhi peraturan. Ya warganya ya aparat pemerintahnya.
Ada perda larangan merokok. Perda ini sangat tidak efektif. sudah tiga tahun diberlakukan, tapi tidak ada efeknya. Memang ada razia terhadap orang yang erokok di trempat umum, tapi tidak efektif. Bagi anda yang di Jakarta, tak akan tahu bedanya ada perda ini atau tidak. Naik angkutan umum, penumpang merokok, sopir juga merokok. Mau menegur, malah kita yang dimarahi. Katanya, kalau mau nyaman, naik taksi saja.
Naik kereta sama saja. Sepertinya semua yang berbau fasilitas umum, selalu identik dengan kesa kumuh, kotor, kemproh, tidak tertib, waton sulyo dll. Prihatin juga. Apakah memang masyarakat kita tidak bisa tertib?
Jakarta langganan banjir. Tapi orang dengan enaknya dan tidak merasa berdosa membuang sampah sembarangan, di jalanan, di selokan, dan paling banyak di sungai. Kalau anda jalan-jalan di Jakarta, tengoklah sungai Ciliwung, atau peintu air manggarai, akan penuh dengan sampah yang mengapung. Ke Masjid Istiqlal, depan masjid akan ada sungai keruh yang banyak sampahnya. Sungai di Jakarta tidak ada yang bersih. Mungkin hanya saluran Kalimalang satu-satunya sungai di Jakarta yang airnya bersih, yang lain: hitam, kotor, bau.
Sudah banyak papan peringatan, dilarang membuang sampah sembarangan. Pelangggaran terhadap larangan itu dikenakan hukuman pidana 3 bulan dan dennda 50 juta rupiah. Jangankan rakyat, petugas kebersihan saja membuang sampah ke sungai. Pernah lihat acara di salah satu stasiun televisi swasta menampilkan hidden camera, ketika ada wartawan mereka tertib, begitu wartawan pergi, sampah langsung dibuang di sungai.
Lalu lintas. Semua ingin di depan, semua lomba klakson, semua seperti balapan. Naik motor di Jakata haruslah jago. Harus siap kalau ada yang belok mendadak dan tanpa peringatan, tiba-tiba diselip dari kiri, mobil angkutan berhenti tiba-tiba di belokan, atau tiba-tiba meinggir dengan cepat padahal posisi di tengah. "Sing waras ngalah", mungkin harus begitu, daripada stress dan ada masalah.
Tatakota. Ini memang tidak kelihatan. Tak banyak yang memegang atau tahu betapa penting tata wilayah yang baik. Mana wilayah untuk perkantoran, untuk perbelanjaan, untuk industri dan untuk permukiman, berapa persen wilayah terbuka hijau sebagai paru-paru kota harus ada.
Mengatur Jakarata memang tidak mudah. Ada banyak kepentingan bermain. Para pejabat tinggi bermukim, yang sering kebal hukum. Para pebisnis tingkat dunia bermukim. Apalagi dengan banyaknya penduduk, bertambah pula kemungkinan gesekan sosial. Semua butuh makan.
Solusi? Saya kira, mulailah dengan hal-hal yang kecil. Banyak yang bilang, orang kecil ditangkap, mereka para koruptor dibiarkan. Kalau mau berubah, tertibkan yang sepele-sepele. Pelanggaran kecil yang ditolerir, berpeluang menjadi pelanggaran besar.
Saya ingat tentang teori jendela pecah. Intinya kira-kira begini, sesuatu yang buruk walaupun kecil, kalau dibiarkan akan memancing orang melakukannya juga, dan secara perlahan mendidik orang untuk terus melanggar atau tidak sadar bahwa dirinya melanggar.
Teori ini mengambil analogi tentang jendela pecah. Umpamanya pada sebuah kereta penumpang umum. Ada salah satu kaca jendela yang pecah, namun tidak diperbaiki. Satu penumpang ada yang iseng, mengetuk kaca tadi, ada pecahan yang lepas. Orang lain penasaran, mengetuknya, ada ada pecahan yang lepas lagi. Akhirnya, kaca jendela tadi jadi besar pecahan.
Contoh lain, kursi bus umum ada yang lecet. Orang menggaruknya, atau mengelupasnya, hanya goresan kecil. orang lain tergoda mengelupasnya. Akhirnya kusri yang tadinya hanya lecet jadi terkelupas pembungkusnya. Setelah itu mungkin saja akan robek.
Contoh lain? Coret-coret tembok. Lihatlah tembok toilet umum. Banyak sekali coretan. Bahkan kalau di tempat tersebut dipasangi peringatan, dilarang corat-coret di sini.
Mungkin masyarakat kita memang dilatih utuk tidak mematuhi aturan. Kalau ada UU atau peraturan baru disahkan, ada razia, namun lama-lama tidak terjadi apa-apa, Akhirnya masayakat menganggap, melanggar tidak apa-apa.
Pemerintah sudah punya banyak undang-undang. Pemerintah DKI juga punya banyak perda. Yang perlu dilakukan adalah, terapkan peraturan dengan benar. Melanggar lalu-lintas: tilang, merokok di tempat umum: tilang, membuang sampah sembarangan: tilang. Dan konsisten.
Akan ada banyak pro dan kontra. Tapi lihat perbedaan, mengapa suasana di kereta eksekutif berbeda dengan di kereta ekonomi? Mengapa suasana di halte transJakarta berbeda dengan di halte bus umum?
posted on:11/19/2008 9:49:46 AM | by: meds | under: opini |
( 0 ) Komentar

