Selamat Hari Ibu
Ibu adalah sosok yang paling penting dalam perjalanan hidup manusia, beliau yang mengandung kita, melahirkan, membesarkan, merawat, mengasuh, mengasihi, mengajari, mendidik, melindungi, memberi. Peran ibu sedemikian besar, sudah seharunyalah sebagai anak, kita harus berbakti kepada beliau. Ojo lali karo asalmu. Konsep sangkan paraning dumadi diri kita pasti harus melewati ibu kan?
Saya tidak akan membahas tentang feminisme, kesetaran jender, itu terlalu jauh di awang-awang. Saya mau menggambarkan ibu saya, sosok yang amat sederhana namun berjasa hingga saya seperti sekarang ini. Kadang berpikir, begitu berjarak antara aku dan beliau. Jangankan internet dan blog, membaca saja ibuku tak mampu, jadi ada Hari Ibu juga tidak tahu. Ya, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang tidak sempat sekolah, ya keadaan waktu itu tak memungkinkan seorang perempuan desa bersekolah.
Aku bisa ke Jakarta, dan pernah beberapa kali ke daerah lain, keadaan yang pasti tidak ada dalam mimi-mimpi ibuku. Ibuku paling jauh ke Kutoarjo untuk menjajakan emping Mlinjo buatan tangan perkasanya. Pernah diajak ke Jakarta waktu ponakan, anak kakakku wisuda, sekali ke Jogja. Mungkin hanya itu pengalaman ke luar daerah.
Bagiku, ibu adalah sosok yang tak kenal lelah. Bayangkan, beliau sudah bangun jam 4, ketika anak-anaknya, dan aku masih tidur, memulai kegiatan di dapur. Masak air, mengggoreng mlinjo, menanak nasi. Jam 13 selesai membuat emping menjemur sampai jam 3, kemudian menggoreng samnpai menjelang maghrib. Habis maghrib masih sibuk membuat lauk dll. Mandi, praktis jam 8 malam baru istirahat. Kegiatan yang berlangsung setiap hari.
Waktu aku sekolah di jogja, tiap dua mingggu pukang dan minta uang. Sering tak tega harus menerima uang yang dikumpulkan rupiah-demi rupiah. Apalagi membayangkan tangan ibuku yang sudah tua harus memukul dengan palu, membuat emping, satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan. Sawah hanya sampingan.Tapi bagaimana, aku masih butuh biaya. Padahal dulu aku berobsesi sekolah tanpa minta bantuan orang tua, tapi ternyata aku tak mampu. Aku tak ada apa-apanya dibanding ibu.
Dua tahun yang lalu ibuku kecelakaan, terpeleset, keseleo yang menyebabkan sempat tak bisa berjalan, dan sekarang harus berjalan dengan tongkat. Tapi sekarang ibu istirahat. Kakakku yang nomor dua menggantikan pekerjaan ibuku. Biarlah ibuku, di hari tuanya, janganlah berlelah-lelah. Istiriahat bu. Salam sungkem dari anakmu. Yang tak juga bisa membalas jasa-jasamu.
posted on:12/21/2008 10:19:13 PM | by: meds | under: diary |
( 6 ) Komentar

