Situ Gintung
Situ atau telaga atau danau kecil. Namanya Situ Gintung, dibangun pada kurun tahun 30-an, katanya sih awalnya bukan situ, tapi bendung. Bendung itu beda dengan bendungan. Bendung itu versi kecilnya bendungan. Ada sungai, di bendung sehingga elevasinya naik. Kalau bendungan itu lebih besar, di atasnya lagi waduk. Waduk yang terbentuk secara alamiah dinamakan danau.
Situ Gintung menjadi terkenal setelah tanggulnya ambrol, apalagi dengan korban jiwa mencapai 100 lebih. Hujan yang turun deras, posisi yang di atas permukaan tanah, kondisi tanggul yang sudah lama, mungkin menjadi penyebab ambrolnya tanggul.
Situ ini memang aneh. Pertama kali mendengar ada situ tanggulnya ambrol saya sempat bingung, kok bisa? Setahu saya elevasi situ biasanya berada di bawah permukaan tanah, jadi tak ada kemungkinan ambrol. Karena terjadinya adalah tanah yang rendah, air mengalir dan terjebak karena kurang atau tak ada jalan keluar. Jadi seperti tempat penampungan air hujan.
Apa fungsi situ? Situ, terutama di Jakarta, digunakan untuk menampung sementara air hujan untuk kemudian limpasannya dialirkan ke sungai. Ini akan menghasilkan manfaat ganda. Dengan tempat penampungan yang besar, situ bisa menangggulangi banjir, juga karena menampung air, maka bisa mengisi air tanah.
Tapi situ Gintung ternyata sebuah bendung, dari gambar aliran air, juga dilihat dari google earth, terlihat aliran air dulunya seperti sebuah sungai. Jadi kemungkinan dulunya sebuah sungai yang dibendung lalu sungainya mati, jadilah tempat limpasan air hujan. Karena bendung ada tanggulnya, ada pengendapan, jadi kondisi situ semakin tinggi. Kecenderungan orang adalah dengan membuat tanggul. Ini solusi jangka pendek, tapi bahaya jangka panjang.
Dilihat dari foto-foto situ Gintung, terlihat tanggul hanya dari urugan tanah biasa. Memang di Indonesia waduk pun rata-rata dibangun dengan type urugan. Tapi bukan hanya tanah, ada canmpuran batu, besar batu kecil, tanah halus, yang menghasilkan tanah yang tanah terhadap rembesan dan kuat.
Dengan menambah tinggi tanggul, maka elevasi dasar situ akan semakin tinggi. Apalagi dengan endapan yang banyak, makan semakin lama situ akan semakin dangkal. Situ penuh. Kalau solusinya adalah dengan menambah ketinggian tanggul lagi, bisa-bisa situ yang tadinya di bawah permukaan tanah lama-lama berada di atas permukaan tanah.
Jakarta dan sekitarnya telah menjadi tempat jutaan orang tinggal dan bekerja. Ini menjadikan tanah menjadi mahal. Maka, pinggiran sungai, pingggiran daerah resapan, situ yang sebenarnya berbahaya juga ditinggali. Kalau mau hitam putih, salah mereka yang membangun rumah di bawah tanggul situ. Namun apa sepenuhnya salah mereka? Mengapa IMB juga diterbitkan, bahkan di sana ada perumahan mewah.
Siapa yang salah? Pemerintah. Sebagai penanggungjawab pengelolaan negara, bertanggungjawab menjaga keselamatan warganya, termasuk layak tidaknya situ Gintung. Pemeriksaan berkala, analisi teknik, diperlukan untuk melihat aman atau tidaknya sebuah bangunan, situ Gintung. Ini bagian kecil saja dari tidak becusnya pemerintah mengurus daerahnya. Di Jakarta saja banyak sekali situ atau danau kecil yang hilang akibat pembangunan gedung atau tidak terurus.
Lebih luas lagi kesalahan semua, bukankah warga ibukota sudah biasa melanggar sesuatu. Jadi, pemerintah yang plin-plan dan masyarakat yang tak tertib, sebuah komposisi pas untuk semakin tidak tertib.
Ada perda larangan merokok, tapi tak berjalan. Larangan penggunaan jalan untuk berjualan, tak jalan. Larangan mendirikan bangunan di tempat terlarang, tak jalan. Bahkan, sebuah apartemen (Rusunami) di Kalibata, yang katanya mendukung program pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal murah bagi warganya, juga tak mempunyai IMB. Secara prosedural, hal yang lucu dan tak masuk akal.
Jadi pemerintah harus punya kebijakan jelas, konsisten dan tegas. Dan dari kita semua, jagalah kelestarian lingkungan. Mulai dari diri sendiri. Contohnya, buang sampah di tempatnya, santun berlalu-lintas, dan patuhi peraturan yang ada.
Turut berduka cita untuk korban meninggal, dan keluarga yang ditinggalkan.
posted on:4/3/2009 9:41:50 AM | by: meds | under: opini |
( 3 ) Komentar

